Sabtu, 29 Desember 2012

ASKEP PADA PASIEN KATARAK



ASKEP PADA PASIEN DENGAN KATARAK
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Katarak merupakan penyebab kebutaan nomor satu di dunia. Indonesia memiliki angka penderita katarak tertinggi di Asia Tenggara. Dari sekitar 234 juta penduduk, 1,5 persen atau lebih dari tiga juta orang menderita katarak. Sebagian besar penderita katarak adalah lansia berusia 60 tahun ke atas. Lansia yang mengalami kebutaan karena katarak tidak bisa mandiri dan bergantung pada orang yang lebih muda untuk mengurus dirinya.
Berdasarkan survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran tahun 1993-1996, menunjukkan angka kebutaan di Indonesia sebesar 1,5%, dengan penyebab utama adalah katarak (0,78%); glaukoma (0,20%); kelainan refraksi (0,14%); dan penyakit-penyakit lain yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%).
Dibandingkan dengan negara-negara di regional Asia Tenggara, angka kebutaan di Indonesia adalah yang tertinggi (Bangladesh 1%, India 0,7%, Thailand 0,3%). Sedangkan insiden katarak 0,1% (210.000 orang/tahun), sedangkan operasi mata yang dapat dilakukan lebih kurang 80.000 orang/ tahun. Akibatnya timbul backlog (penumpukan penderita) katarak yang cukup tinggi. Penumpukan ini antara lain disebabkan oleh daya jangkau pelayanan operasi yang masih rendah, kurangnya pengetahuan masyarakat, tingginya biaya operasi, serta ketersediaan tenaga dan fasilitas pelayan kesehatan mata yang masih terbatas.
Maka dari itu kami terdorong untuk menyusun makalah ini,sehingga dapat menambah pengetahuan kita tentang insiden katarak itu sendiri.

A.    KONSEP DASAR TEORI
1.      Pengertian
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya. Biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif.
Katarak adalah kekeruhan (bayangan seperti awan) pada lensa tanpa disertai rasa nyeri yang berangsur-angsur penglihatan menjadi kabur dan akhirnya tidak dapat melihat oleh karena mata tidak menerima cahaya.
Klasifikasi katarak:
Ø  Katarak senilis
Katarak senilis dibagi menjadi 4 stadium yaitu:
a.       Katarak insipient : kekeruhan lensa sangat tipis terutama dibagian perifer korteks. Biasanya tidak menimbulkan gangguan penglihatan dan masih dapat dikoreksi 6/6.
b.      Katarak imatur: kekeruhan terutama terjadi di bagian posterior,uji bayangan masih positif. Visus 3/60-3/30
c.       Katarak matur : kekeruhan lensa sudah menyeluruh dan uji bayangan sudah negative. Tajam penglihatan bervariasi antara 1/300-seper tak terhingga.
d.      Katarak hipermatur : terjadi pengerutan kapsul lensa, kortek lensa mencair dan nucleus bergerak ke bawah disebut juga katarak Morgagni.

Table 1.1 Stadium pada katarak senile

Insipien
Imatur
Matur
hipermatur
Kekeruhan
Cairan lensa
Iris

Bilik mata depan
Sudut bilik mata
Shadow test
Penyulit
Ringan
Normal
Normal

Normal
Normal
Negatif
-           

Sebagian
Bertambah
Terdorong

Dangkal
Sempit
Positif
Glaucoma
Seluruh
Normal
Normal

Normal
Normal
Negative
-           

Massif
Berkurang
Tremulans (hanya bila zonula putus)
Dalam
Terbuka
Pseudopositif
Uveitis, glaucoma


Ø  Katarak komplikata : katarak yang berkembang sebagai efek langsung dari adanya penyakit intraokuler sesuai fisiologi lensa. Misalnya uveitis anterior kronis, glaucoma kongestif akut.
Ø  Katarak toksika: jarang terjadi, biasanya karenaobat steroid, klorpromazin, preparat emas.
Ø  Katarak yang berhubungan dengan penyakit sistemik: bisa menyertai kelainan sistemik DM, sindroma hipokalsemi, hipoparatiroidisme.
Ø  Katarak traumatic: katarak akibat trauma, paling sering adanya korpus alienum yang menyebabkan lesi atau injury pada lensa atau oleh trauma tumpul pada bola mata.
Ø  Katarak congenital: kekeruhan lensa yang terjadi sejak lahir atau segera setelah lahir.

2.      Etiologi
Penyebabnya bermacam-macam. Umumnya adalah usia lanjut (senile), tapi dapat terjadi secara congenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin,genetic, dan gangguan perkembangan; kelainan sistemikatau metabolic, seperti diabetes mellitus, galaktosemi, dan distrofi miotonik;traumatic;terapi kortikosteroid sistemik dan sebagainya.
Penyebab yang lain bisa meliputi trauma, infeksi pada traktur uvea, penyakit sitemik seperti DM dan pemaparan dengan sinar ultraviolet.
3.      Patofisiologi
Lensa normalnya bening/transparan agar cahaya dapat masuk kedalam mata. Perubahan biokimia dapat terjadi pada lensa, sehingga menyebabkan perubahan pada susunan anatomi maupun fisiologinya.
Trauma dapat menyebabkan perubahan pada serabut-serabut yang menyebabkan lensa menjadi keruh, kemudian menghalangi jalannya cahaya yang masuk kedalam retina. Katarak matur merupakan perkembangan dari berbagai katarak pada kapsul lensa. Dewasa ini katarak dapat dihilangkan melalui tindakan operasi.
Bagaimanapun derajat penurunan tajam penglihatan akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Katarak dapat berkembang pada kedua mata, sebagaimana pada katarak senilis, hanya saja rentangnya berbeda.
4.      Manifestasi klinis
Ø  Tanda: lensa keruh, penglihatan kabur secara berangsur-angsur tanpa rasa sakit, pupil berwarna putih, miopisasi pada katarak intumessen.
Ø  Gejala: merasa silau terhadap cahaya matahari, penglihatan kabur secara berangsur-angsur tanpa rasa sakit, penglihatan diplopia monokuler (dobel), persepsi warna berubah,perubahan kebiasaan hidup.
Sejak awal, katarak dapat terlihat melalui pupil yang telah berdilatasi dengan oftalmoskop, slit lamp, atau shadow test. Setelah katarak bertambah matang maka retina menjadi semakin sulit dilihat sampai akhirnya reflex fundus tidak ada dan pupil berwarna putih.
5.      Golongan beresiko
Golongan yang beresiko mengidap katarak adalah seperti berikut:
Ø  DM
Ø  Merokok
Ø  Peningkatan asam urat
Ø  Hipertensi
Ø  Defisiensi antioksidan
Ø  Miopi yang tinggi
Ø  Ibu mengandung yang mengidap penyakit rubella
Ø  Orang dewasa yang berusia 60 tahun keatas

6.      Pemeriksaan diagnostic
a.       Kartu snellen: untuk memeriksa tajam penglihatan, pada stadium insipient dan imatur dicoba untuk dikoreksi.
b.      Lamp senter: untuk memeriksa pupil. Reflex pupil masih normal, tampak kekeruhan pada lensa, terutama bila pupil dilebarkan. Proyeksi sinar dan warna pada katarak matur diperiksa untuk mengetahui fungsi retina secara garis besar.
c.       Oftalmoskopi : pupil hendaknya dilebarkan dulu. Pada katarak insipient dan matur tampak kekeruhan, kehitam-hitaman dengan latar belakang kemerahan, sedang pada katarak matur hanya tampak warna kehitaman.
d.      Slit lamp: untuk mengetahui posisi dan tebal kekeruhan.

7.      Data penunjang
a.       Pemeriksaan laboratorium
b.      Pemeriksaan EKG
c.       Pemeriksaan USG mata
d.      Pemeriksaan biometri.

8.      Komplikasi
Komplikasi pada katarak yang mungkin terjadi antarra lain:
-          Glaucoma
-          Hyphema
-          Tegangan pada jahitan
-          Infeksi

9.      Penatalaksanaan
a.       Non bedah: tidak ada spesifik,midriatik siklopegik dapat digunakan pada katarak sentral kecil.
b.      Bedah: dilakukan bila tajam penglihatan sudah mengganggu pekerjaan sehari-hari atau bila katarak senilis sudah matur.
Pengankatan lensa dapat dilakukan dengan:
a.       Ekstrakapuler + IOL
b.      Intrakapsule + IOL
c.       Setelah itu, untuk koreksi afakia dapat dipakai: kacamata, lensa kontak atau pemasangan/implantasi lensa  intraokuler.

10.  Diagnosa keperawatan yang sering muncul
1.      Pre operasi
a.       Resiko cedera
b.      Kopiing individu inefektif
c.       Cemas
d.      Kurang pengetahuan
2.      Post operasi
a.       Nyeri
b.      Resiko infeksi
c.       Cemas

B.     PROSES KEPERAWATAN
BAB III RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Intervensi pre operasi
Dx Keperawatan : Kecemasan b.d kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan.
Tujuan           :  Setelah dilakukan tindakan keperawatan …x24 jam, kecemasan dapat teratasi.
Kriteria hasil  :
1.      Pasien mengungkapkan dan mendiskusikan rasa cemas/ ketakutannya.
2.      Pasien tampak rileks tidak tegang dan melaporkan kecemasannya berkurang sampai pada tingkat dapat diatasi.
3.      Pasien dapat mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang pembedahan
Intervensi :
1.      Kaji tingkat kecemasan pasien dan catat adanya tanda – tanda verbal maupun non verbal.
2.      Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya
3.      Observasi tanda vital dan peningkatan respon fisik pasien.

2.      Intervensi post – operasi
Dx Keperawatan : Resiko tinggi terhadap cedera b.d peningkatan TIO, perdarahan intraokuler, kehilangan vitreous.
Tujuan           : Setelah dilakukan tindakan keperawatan …x24 jam tidak terdapat tanda – tanda resiko .
Kriteria hasil :
1.      Menyatukan pemahaman factor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
2.      Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk atau meningkatkan keamanan
Intervensi :
1.      Diskusikan apa yang terjadi pada pascaoperasi tentang nyeri, pembatasan aktivitas, penampilan balutan mata.
2.      Beri pasien posisi bersandar, kepala tinggi/miring ke sisi yang tidak sakit sesuai keinginan.
3.      Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menganggukkan mata, membongkok.

Dx Keperawatan : Resiko tinggi terhadap infeksi b.d prosedur infasif (bedah pengangkatan katarak)
Tujuan :
1.       Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema dan demam.
2.      Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/ menurunkan resiko infeksi.
Intervensi :
1.      Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati luka.
2.      Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata, dari dalam keluar dengan tissue basah/bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan dan masukkan lensa kontak bila menggunakannya.
3.      Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang dioperasi
Dx keperawatan : Nyeri akut/kronis b.d tindakan pembedahan
Tujuan :
1.      Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan).
2.      Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
3.      Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekwensi dan tanda vital)
4.      Tanda vital dalam keadaan normal.
Intervensi :
1.      Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekwensi, kualitas dan factor presipitasi.
2.      Observasi tanda-tanda vital 
3.      Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyaman
4.      Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
5.      Ajarkan teknik nonfarmakologik: nafas dalam, relaksasi.
6.      Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik
7.      Tingkatkan istirahat

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Kesimpulan
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa, atau akibat kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif (Mansjoer,2000).
Katarak dapat diklasifikasikan menjadi katarak kongenital, katarak senile, katarak juvenile dan katarak komplikata. Penyebab dari katarak adalah usia lanjut (senile) tapi dapat terjadi secara kongenital akibat infeksi virus dimasa pertumbuhan janin, genetik, dan gangguan perkembangan, kelainan sistemik, atau metabolik, seperti diabetes melitus, galaktosemi, atau distrofi mekanik, traumatik: terapi kortikosteroid, sistemik, rokok, dan konsumsi alkohol meningkatkan resiko katarak.
Gejala umum gangguan katarak meliputi penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek, peka terhadap sinar atau cahaya, dapat melihat doubel pada satu mata, memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca, lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu.
Komplikasi katarak adalah glaukoma, infeksi pasca operasi, perdarahan dan edema. Tidak ada terapi obat untuk katarak. Jenis pembedahan untuk katarak mencakup extracapsular cataract extractive (ECCE) dan intracapsular cataract extractive (ICCE).
2.      Saran
Untuk menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan katarak sebaiknya perawat mengkaji masalah yang ada pada klien. Disamping itu, pengetahuan, sikap dan keterampilan perawat juga diperlukan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai rencana dan keadaan klien secara utuh, terencana dan sistematis.



DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif.2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 1. Jakarta, Media Aesculapius. Fakultas Kedokteran UI
Doengoes, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta; EGC





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar