Sabtu, 29 Desember 2012

askep hernia



ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN HERNIA
A.    KONSEP DASAR TEORI
1.      Pengertian
Hernia adalah penonjolan bagian organ atau jaringan melalui lubang abnormal ( Dorland, 1998 : 504)
Hernia abdominalis adalah penonjolan isi perut dari rongga yang normal melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeurotik dinding perut, baik secara congenital atau didapat, yang memberi jalan keluar pada setiap alat tubuh selain yang biasa melalui dinding tersebut ( Mansjoer, 2000).
Hernia adalah menonjolnya suatu organ atau struktur organ di tempatnya yang normal melalui sebuah defek congenital atau yang didapat. (Long, 1996 : 246)
Hernia atau usus turun adalah penonjolan abnormal suatu organ/sebagian dari organ melalui lubang pada struktur disekitarnya.
Klasifikasi hernia:
Ada banyak penjelasan mengenai klasifikasi hernia menurut macam, sifat dan proses terjadinya. Berikut penjelasannya:
Ø  Macam – macam hernia menurut letaknya:
a.       Ingunalis. Terbagi lagi menjadi:
-          Indirek/lateralis. Hernia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan melewati korda spermatikus melalui kanalis inguinalis. Umumnya terjadi pada pria dan wanita. Insidennya tinggi pada bayi dan anak kecil. Hernia ini dapat menjadi sangat besar dan sering turun ke skrotum. Umumnya pasien mengatakan turun berok, burut atau kelingsir tau mengatakan adanya benjolan di selangkangan/kemaluan.
-          Direk/medialis : hernia ini melewati dinding abdomen di area kelemahan otot, tidak melalui kanal seperti pada hernia ingunalis. Umumnya pada lansia.
b.      Femoralis : terjadi melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita dari pada pria. Ini mulai sebagai penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar dan secara bertahap menarik peritoneum dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung.
c.       Umbilikal: pada orang dewasa umumnya pada wanita dan karena peningkatan tekanan abdominal. Biasanya pada klien gemuk dan wanita multipara.
Ø  Berdasarkan terjadinya,
a.       Hernia bawaan atau congenital
b.      Hernia dapatan atau akuisita (acquisitus = didapat) yakni hernia yang timbul karena berbagai faktor pemicu.
Ø  Menurut sifatnya, terdiri dari:
a.       Hernia reponibel/reducible, yaitu herni dapat keluar masuk. Usus keluar jika mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau di dorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
b.      Hernia ireponible, yaitu bila isi kantong hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga.
c.       Hernia strangulate atau inkarserata, yaitu bila isi hernia terjepi oleh cincin hernia. Hernia inkarserata berarti isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibatnya berupa gangguan pasase atau vaskularisasi.

2.      Etiologi

a.       Ketidakpatensian rongga yang tidak nyaman.
b.      Timbul karena lubang embrional yang tidak menutup atau melebar, akibat tekanan rongga perut yang meninggi.
c.       Cacat bawaan
d.      Anomaly congenital atau karena sebab didapat.
e.       Adanya prosesus vaginalis yang terbuka.
f.       Genetik
g.      Proses menua. Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia lanjut usia lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta.
h.      Akitivitas fisik berat. Pekerjaan berat yang dilakukan dalam jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut ( Oswani. 2000 : 217).

3.      Patofisiologi
Hernia berkembang ketika intra abdominal mengalami pertumbuhan tekanan seperti tekanan pada saat mengangkat sesuatu yang berat, pada saat buang air besar atau batuk yang kuat atau bersin dan perpindahan bagian usus ke daerah otot abdominal, tekanan yang berlebihan pada daerah abdominal itu tentu saja akan menyebabkan suatu kelemahan mungkin disebabkan dinding abdominal yang tipis atau tidak cukup kuatnya pada daerah tersebut dimana kondisi itu ada sejak atau terjadi dari proses perkembangan yang cukup lama, pembedahan abdominal, kemudian terjadi hernia. Karena organ – organ selalu saja melakukan pekerjaan yang berat dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga terjadilah penonjolan yang mengakibatkan kerusakan yang sangat parah. Sehingga akhirnya menyebabkan kantung yang terdapat dalam perut menjadi atau mengalami kelemahan jika suplai darah terganggu maka berbahaya dan dapat menyebabkan ganggren.
4.      Manifestasi klinis

a.       Berupa benjolan keluar masuk/keras.
b.      Adanya rasa nyeri pada daerah benjolan
c.       Terdapat gejala mual dan muntah atau distensi bila telah ada komplikasi
d.      Terdapat keluhan kencing berupa disuria pada hernia femoralis yang berisi kandung kencing .

5.      Penatalaksanaan medis
a.       Secara konservatif ( non operatif)
1.      Reposisi hernia. Hernia dikembalikan pada tempat semula bisa langsung dengan tangan.
2.      Penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset.
b.      Secara operatif
1.      Hernioplasty. Memindahkan fasia pada dinding perut yang lemah, hernioplasty sering dilakukan pada anaka – anak.
2.      Hernioraphy. Pada bedah elektif, kanalis dibuka, isi hernia di masukkan, kantong diikat, dan dilakukan bainy plasty atau teknik yang lain untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Ini sering dilakukan pada orang dewasa
3.      Herniotomy. Seluruh hernia dipotong dan diangkat lalu dibuang. Ini dilakukan pada klien dengan hernia yang sudah nekrosis.

B.     PROSES KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
-          Sirkulasi. Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edemapulmonal, penyakit vascular perifer, atau statisvascular ( peningkatan resiko pembentukan thrombus)
-          Integritas ego. Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis, faktor – faktor stress multiple, misalnya financial, hubungan, gaya hidup.
-          Makanan/ cairan. Gejala : Insufiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis), malnutrisi ( termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering ( pembatasan pemasukan/ periode puasa praoperasi).
-          Pernapasan. Gejala : Infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
-          Keamanan. Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester dan larutan.
Defisiensi imun (peningkatan resiko infeksi sistemik dan penundaan penyembuhan) ; munculnya kanker/ terapi kaker terbaru ; riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; riwayat penyakit hepatic ( efek dari detoksifikasi obat – oabatan dan dapat mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse.
-          Penyuluhan dan pembelajaran. Gejala : penggunaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipetensi, kardiotonik, glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan dan obat – obat lainnya yang di jual bebas.
2.      Diagnosa keperawatan

1.      Gangguan rasa nyaman nyeri b/d diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
2.      Resti infeksi b/d luka insisi bedah/operasi.
3.      Gangguan pola tidur b/d nyeri post operasi
4.      Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum.
3.      Rencana asuhan keperawatan

Dx keperawatan I: Gangguan rasa nyaman nyeri b/d diskontuinitas jaringan akibat tindakan operasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan nyeri hilang atau berkurang.
Kriteria hasil :
a.       Klien mengatakan rasa nyeri berkurang
b.      Tanda – tanda vital dalam batas normal
c.       Pasien tampak rileks dan tenang.
Intervensi :
1.      Observasi tanda – tanda vital
2.      Kaji pengalaman nyeri pasien, intensitas/skala nyeri
3.      Anjurkan klien istirahat ditempat tidur
4.      Atur posisi pasien senyaman mungkin
5.      Ajarkan teknik nonfarmakologik : relaksasi dan napas dalam.
6.      Kolaborasi untuk pemberian analgetik.
Dx keperawatan II: Resti infeksi b/d luka insisi bedah/operasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan tidak ada tanda infeksi.
Kriteria hasil :
a.       Tidak da tanda – tanda infeksi seperti pus
b.      Luka bersih, tidak lembab dan kotor
c.       Tanda – tanda vital normal.
Intervensi :
1.      Pantau tanda – tanda vital
2.      Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptic.
3.      Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infuse, kateter, drasinase luka dll.
4.      Jika ditemukan tanda – tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah seperti Hb dan leukosit.
5.      Kolaborasi untuk pemberian antibiotic.
Dx keperawatan III : Gangguan pola tidur b/d nyeri post operasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan pasien dapat tidur dengan nyaman.
Kriteria hasil :
a.       Pasien mengungkapkan kemampuan untuk tidur.
b.      Pasien tidak merasa lelah ketika bangun tidur
c.       Kualitas dan kuantitas tidur normal.
Intervensi :
1.      Berikan kesempatan untuk beristirahat/tidur sejenak, anjurkan latihan pada siang hari, turunkan aktivitas mental/fisik pada sore hari.
2.      Hindari penggunaan pengikatan secara terus – menerus
3.      Evaluasi tingkat stress orientasi sesuai perkembangan hari demi hari.
4.      Lengkapi jadwal tidur dan ritual secara teratur. Katakan pada pasien bahwa “ ini adalah waktu untuk tidur”
5.      Berikan makanan kecil sore hari, susu hangat, mandi dan masase punggung
6.      Kolaborasi dengan dokter pemberian obat sesuai indikasi.
Dx keperawatan IV : Intoleransi aktivitas b/d kelemahan umum.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan klien dapat melakukan aktivitas ringan atau total.
Kriteria hasil :
a.       Perilaku menunjukkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri
b.      Pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
c.       Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainnya baik.
Intervensi :
1.      Rencanakan periode istirahat yang cukup
2.      Berikan latihan aktivitas secara bertahap
3.      Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan
4.      Setelah latihan dan aktivitas kaji respon pasien.

Daftar pustaka:
Poppy Kumala dkk. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta : EGC, 1998.
Mansjoer, Arif. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid II. Media Aesculapius FKUI. Jakarta,2000.

.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar