Sabtu, 29 Desember 2012

ASKEP APPENDISITIS



ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN APPENDISITIS
A.    Konsep dasar teori
1.      Pengertian
Appendicitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki – laki maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang laki – laki berusia 10 – 30 tahun ( Mansjoer, Arif. 2000)
Appendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan, obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi ( Sabiston,1995).
Appendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat ( Smeltzer, 2001).
2.      Etiologi

a.       Fekolit/ massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat.
b.      Tumor apendiks
c.       Cacing ascaris
d.      Erosi mukosa apendiks karena parasit E. Histolytica.
e.       Hyperplasia jaringan limfe.

3.      Patofisiologi
Appendiksitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktur karena fibrosis akibat perandangan sebelumnya, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyababkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi appendiksitis akut fokal yang ditandai dengan nyeri epigastrium.
Bila sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah ( apendiksitis supuratif akut).
Aliran arteri kemudian terganggu, sehingga menyebabkan terjadinya infark dinding apendiks yang diikuti dengan ganggren. Disebut dengan stadium appendicitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh pecah akan terjadi appendicitis perforasi.
Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kea rah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate appendikularis.
4.      Manifestasi klinis

a.       Nyeri pada umbilicus atau periumbilikus
b.      Nyeri menjalar ke kuadran kanan bawah, yang kan menetap dan diperberat jika berjalan atau batuk.
c.       Anoreksia
d.      Mual dan muntah
e.       Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonitis.
f.       Nyeri lepas dan spasme.
g.      Bising usus menurun atau tidak sama sekali
h.      Konstipasi
i.        Diare
j.        Disuria
k.      Iritabilitas
l.        Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama.

5.      Pemeriksaan penunjang
-          Laboratorium : Pemeriksaan darah lengkap dan test protein reaktif (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap ditemukan jumlah leukosit antara 10.000-20.000/ml ( leukositosis dan neutrofil diatas 75 %, sedangkan pada CRP ditemukan jumlah serum yang meningkat.
-          Radiologi : Ultrasonografi dan CT – scan.

6.      Penatalaksanaan Appendisitis

Ø  Sebelum operasi
a.       Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
b.      Pemasangan kateter untuk control produksi urin
c.       Rehidrasi
d.      Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi, dan diberikan secara intravena.
e.       Obat – obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai.
f.       Bila demam, turunkan segera sebelum diberikan anestesi.
Ø  Operasi
a.       Apendiktomi
b.      Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.
c.       Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV, massanya mungkin mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan.
Ø  Pasca operasi
a.       Observasi TTV
b.      Angkat sonde lambung
c.       Baringkan pasien dalam posisi fowler.
d.      Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal.
e.       Berikan minum mulai 5 ml/jam selama 4 – 5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam.
f.       Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk ditempat tidur selama 2x30 menit.
g.      Pada hari ke dua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar.
h.      Pada hari ke – 7 jahitan dapat diangkat dan pasien boleh pulang.

B.     Proses keperawatan
1.      Pengkajian
Ø  Anamnesa
-          Keluhan utama klien akan ditemukan nyeri pada daerah sekitar epigastrium yang menjalar ke abdomen kanan bawah. Timbul nyeri perut kanan bawah mungkin dalam waktu beberapa jam kemudian setelah nyeri di umbilicus atau di epigastrium dirasakan dalam bebrapa waktu lalu. Sifat keluhan dirasakan terus – menerus, dapat hilang tau timbul nyeri dalam waktu yang lama. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas.
-          Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang
-          Diet, kebiasaan konsumsi makanan rendah serat.
-          Kebiasaan eliminasi.
Ø  Pemeriksaan fisik
-          Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
-          Sirkulasi : takhikardia.
-          Respirasi : Takipone, pernapasan dangkal
-          Aktivitas/istirahat : Malaise.
-          Eliminasi : konstipasi pada awitan awal, diare kadang – kadang.
-          Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak bising usus.
-          Nyeri/kenyamanan, nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk atau napas dalam. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/ posisi duduk tegak.
-          Suhu > 38 derajat C.
-          Data psikologis klien tampak gelisah
-          Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan
-          Pada pemerksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.
-          Berat badan sebagi indicator untuk menentukan pemberian obat.

2.      Diagnosa keperawatan
Berdasarkan data hasil pengkajian, diagnose keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan appendiksitis adalah :
1.      Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan/insisi bedah; trauma jaringan; distensi jaringan usus oleh inflamasi.
2.      Hipertermi b/d proses infeksi  
3.      Resiko kekurangan volume cairan b/d mual dan muntah; kehilangan volume cairan secara aktif; kegagalan mekanisme pengaturan; pembatasan pasca operasi.
4.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan ingesti; digesti; absorpsi.
5.      Cemas b/d perubahan status kesehatan; kemungkinan dilakukannya operasi
6.      Resiko infeksi b/d tidak adekuatnya pertahanan tubuh ; prosedur invasiv ( insisi bedah ).
7.      Kurang pengetahuan b/d kurang terpaparnya informasi ; keterbatasan kognitif.

3.      Rencana asuhan keperawatan
Dx keperawatan  I : Nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan/insisi bedah; trauma jaringan; distensi jaringan usus oleh inflamasi.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan nyeri berkurang s/d hilang
Kriteria hasil :
-          Nyeri hilang/ berkurang.
-          Pasien tampak rileks
-          Vital sign dalam batas normal
-          Skala nyeri 0
Renpra :
1.      Kaji nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, keparahan.
2.      Kaji pemahaman nyeri klien, tentukan tingkat nyeri yang dialami.
3.      Observasi tanda vital sesuai data focus dan tanda – tanda komplikasi : nyeri abdomen, demam, muntah, kekakuan abdomen, takikardi.
4.      Beri kesempatan untuk istirahat ( terutama ila nyeri timbul), lingkungan yang tenang dan nyaman, minimalisasi stressor.
5.      Ajarkan tindakan penurunan nyeri non invasif : relaksasi, nafas dalam.
6.      Kolaborasi dengan dokter terapi analgetik dan kaji keefektifannya.
7.      Berikan informasi yang akurat termasuk penjelasan dan persiapan operasi jika direncanakan.
Dx keperawatan II: Hipertermi b/d proses infeksi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam diharapkan suhu tubuh dalam batas normal
Kriteria hasil : Suhu 36 – 37 derajat Celcius
Renpra :
1.      Kaji penyebab hipertermi
2.      Observasi suhu tiap 4 jam
3.      Jelaskan pada klien pentingnya mempertahankan masukan cairan yang adekuat untuk mencegah dehidrasi, seacara oral bila tidak ada kontra indikasi atau secara IV
4.      Ajarkan upaya mengatasi hipertermi : kompres, sirkulasi cukup, pakaian longgar dan kering, pembatasan aktivitas.
5.      Kolaborasi dengan dokter untuk terapi, pemeriksaan laboratorium dan tindakan medic.
Dx keperawatan III : Cemas b/d perubahan status kesehatan; kemungkinan dilakukannya operasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan …x24 jam diharapkan pasien dalam keadaan tenang.
Kriteria hasil:
-          Klien tampak tenang
-          Klien mengatakan mengerti tentang penyakitnya dan prosedur tindakan yang akan dilakukan.
Renpra :
1.      Berikan informasi kepada klien mengenai prosedur dan tujuan dilakukan tindakan pembedahan
2.      Jelaskan kepada klien mengenai apa yang akan dilakukan/dikerjakan.
3.      Gunakan pendekatan yang tenang untuk meyakinkan klien.
4.      Berikan motivasi kepada keluarga untuk menemani klien.
Daftar pustaka:
Mansjoer. Arif.  et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi 3. Jakarta : Media Aesculapius
Marylin E. Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Edisi 3. EGC. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar