Sabtu, 29 Desember 2012

ASKEP CUSHING SINDROM



ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
“ CUSHING SINDROM “
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH KMB III

DISUSUN OLEH KELOMPOK V:
1.      ISTY ARTANTI
2.      ANITA H. SIMANUNGKALIT
3.      MUHAMMAD MULYADI PRANATA
4.      I WAYAN RASIANA
5.      LEA WAYENI
6.      ROSMINCE
7.      CANDRA HIDAYAT
8.      ERMA B. WAMBLOLO




POLITEKNIK KESEHATAN JAYAPURA
PROGRAM DIPLOMA III KEPERAWATAN
TA 2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sindrom Cushing disebabkan hormon kortisol dihasilkan secara berlebihan. Hormon kortisol dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Secara biologinya, kelenjar berbentuk seakan-akan topi ini terdiri daripada dua lapisan yang dikenali sebagai korteks (lapisan luar) dan medula (lapisan dalam). Kelenjar adrenal menghasilkan antara 30 hingga 50 sebatian steroid atau hormon. Tiga hormon utama yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal ini ialah hormon kortisol, adolsteron dan hormon androgen.
Sindrom Cushing pula selalunya terjadi pada kaum wanita. Pesakit biasanya juga mempunyai masalah darah tinggi, peningkatan berat badan dengan rupa bentuk ‘cushingoid’.
Punca utama penyakit sindrom Cushing adalah adenoma korteks adrenal, hiperplasia menyeluruh, hiperplasia makronodul dan kanser kelenjar adrenal. Rawatan penyakit sindrom Cushing ialah dengan merawat puncanya. Feokromositoma adalah ketumbuhan yang jarang ditemui dan ia merembeskan hormon katekolamin. Tanda penyakit adalah peningkatan tekanan darah, massa abdomen dan serangan panik. Ketumbuhan boleh berpunca dari satu kelenjar adrenal (74.2%), adrenal ekstra (16.1%) atau kedua-dua kelenjar (9.6%).
Karsinoma korteks adrenal jarang ditemui, bersifat agresif dan mempunyai ketumbuhan yang telah merebak. Penyakit ini boleh sembuh jika dikesan lebih awal dan menjalani pembedahan dengan segera.
Sindrom Cushing juga biasa terdapat pada anjing peliharaan atau kuda, yang menunjukkan simptom yang sama seperti manusia, di mana ia kelihatan bulu kerinting rapat yang tidak gugur dan kehilangan berat badan dan laminitis.
                                                                    
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana mekanisme kerja dan regulasi hormone adrenokortikal
2.      Bagaimanakah pathogenesis dan patofisiologi Cushing Sindrom
3.      Apakah dasar kriteria diagnosis Cushing Sindrome
4.      Bagaimanakah penatalaksanaan Cushing Syndrom
C.     Tujuan Penulisan
1)      Tujuan umum
1.      Untuk mengetahui dan dapat memberikan asuhan keperawatan pada penderita sindrome cushing.
2)       Tujuan Khusus  
1.      Mampu melakukan pengkajian pada penderita sindrome cushing.
2.       Mampu Merumuskan diagnosa keperawatan pada penderita sindrome cushing  Mampu membuat rencana keperawatan pada pasien gangguan sindrome cushing.
3.      Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien gangguan sindrome cushing.
4.      Mampu Mengevaluasi pelaksanaan askep pada pasien gangguan sindrome cushing.
D.    Manfaat Penulisan
Dengan penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa mengetahui dasar dan teori endokrinologi dan aplikasinya dalam proses keperawatan.
E.     Hipotesis
Pasien dalam kasus penderita Cushing Sindrome akibat konsekuensi berlebihnya sekresi glukokortikoid yang mempengaruhi sebagian besar proses metabolisme, sehingga laporan ini akan lebih focus membahas fisiologi kortisol sebagai glukokortikoid utama.
F.      Sistematika Penyajian
1.      Konsep Dasar Penyakit
2.      Konsep atau asuhan keperawatan sindrome cushing
3.      Kesimpulan dan saran



















BAB III
PEMBAHASAN
A.    KONSEP DASAR TEORI

1.      Pengertian
Sindrom Cushing adalah suatu keadaan yang diakibatkan oleh efek metabolik gabungan dari peninggian kadar glukokortikoid dalam darah yang menetap. Kadar yang tinggi ini dapat terjadi secara spontan atau karena pemberian dosis farmakologik senyawa –senyawa glukokortikoid. (Sylvia A. Price; Patofisiologi, Hal. 1088).
2.      Etiologi
Sindrom Cushing disebabkan oleh sekresi kortisol atau kortikosteron yang berlebihan, kelebihan stimulasi ACTH mengakibatkan hyperplasia korteks anal ginjal berupa adenoma maupun carcinoma yang tidak tergantung ACTH juga mengakibatkan sindrom Cushing. Demikian juga hiperaktivitas hipofisis, atau tumor lain yang mengeluarkan ACTH. Syndrome Cushing yang disebabkan tumor hipofisis disebut penyakit Cushing. (buku ajar ilmu bedah, R. Syamsuhidayat, hal 945).
Sindrom Cushing dapat diakibatkan oleh pemberian glukortikoid jangka panjang dalam dosis farmakologik (latrogen) atau oleh sekresi kortisol yang berlebihan pada gangguan aksis hipotalamus-hipofise-adrenal (spontan) pada sindrom cusing spontan, hiperfungsi korteks adrenal terjadi akibat ransangan belebihan oleh ACTH atau sebab patologi adrenal yang mengakibatkan produksi kortisol  abnormal. (Sylvia  A. Price; Patofisiologi,  hal 1091)
3.      Patofisiologi  
Telah dibahas diatas bahwa penyebab sindrom cishing adalah  peninggian kadar glukokortikoid  dalam darah yang menetap. Untuk lebih memahami manifestasi klinik sindrom chusing, kita perlu membahas akibat-akibat metabolik dari kelebihan glikokorikoid.
Korteks adrenal mensintesis dan mensekresi empat jenis hormon:
a.      Glukokortikoid. Glukokortikoid fisiologis yang disekresi oleh adrenal manusia adalah kortisol.
b.      Mineralokortikoid. Mineralokortikoid yang fisiologis yang diproduksi adalah aldosteron.
c.      Androgen.
d.     Estrogen
Kelebihan glukokortikoid dapat menyebabkan keadan-keadaan seperti  dibawah ini:
1.      Metabolisme protein dan karbohidrat.
Glukokortikoid mempunyai efek katabolik dan antianabolik pada protein, menyebabkan menurunnya kemampuan sel-sel pembentk protein untuk mensistesis protein, sebagai akibatnya terjadi kehilangan protein pada jaringan seperti kulit, otot, pembuluh darah, dan tulang.
Secara klinis dapat ditemukan:
a.        Kulit mengalami atropi dan mudah rusak, luka-luka sembuh dengan lambat.
b.       Ruptura serabut-serabut elastis pada kulit menyebabkan tanda regang pada kulit  berwarna ungu (striae).
c.        Otot-otot mengalami atropi dan menjadi lemah.
d.       Penipisan dinding pembuluh darah dan melemahnya jaringan penyokong vaskule menyebabkan mudah tibul luka memar.
e.        Matriks protein tulang menjadi rapuh dan menyebabkan osteoporosis, sehingga dapat dengan mudah terjadi fraktur patologis.
f.        Metabolisme karbohidrat dipengaruhi  dengan meransang glukoneogenesis dan menganggu kerja insulin pada sel-sel perifer, sebagai akibatnya penderita dapat mengalami hiperglikemia.
g.       Pada seseorang yang mempunyai kapasitas produksi insulin yang normal, maka efek dari glukokortikoid akan dilawan dengan meningkatkan sekresi insulin untuk meningkatkan toleransi glukosa.
h.       Sebaliknya penderita dengan kemampuan sekresi insulin yang menurun tidak mampu untuk mengkompensasi keadaan tersebut, dan menimbulkan manifestasi klinik DM.
2.      Distribusi jaringan adiposa.
a.        Distribusi jaringan adiposa terakumulasi didaerah sentral tubuh.
b.       Obesitas
c.        Wajah bulan (moon face)
d.       Memadatnya fossa supraklavikulare dan tonjolan servikodorsal (punguk bison).
e.        Obesitas trunkus dengan ekstremitas atas dan bawag yang kurus akibat atropi otot memberikan penampilan klasik perupa penampilan Chusingoid.
3.      Elektrolit
Efek minimal pada elektrolit serum.
a.        Kalau diberikan dalam kadar yang  terlalu besar dapat menyebabkan retensi natrium dan pembuangan kalium. Menyebabkan edema, hipokalemia dan alkalosis metabolik.
4.      Sistem kekebalan
Ada dua respon utama sistem kekebalan; yang pertama adalah pembentukan antibody humoral oleh sel-sel plasma dan limfosit B akibat ransangan antigen yang lainnya tergantung pada reaksi-reaksi yang diperantarai oleh limfosit T yang tersensitasi.
Glukokortikoid mengganggu pembentukan antibody humoral dan menghabat pusat-pusat germinal limpa dan jaringan limpoid pada respon primer terhadap anti gen.
Gangguan respon imunologik dapat terjadi pada setiap tingkatan berikut ini:
a.        Proses pengenalan antigen awal oleh sel-sel sistem monosit makrofag.
b.       Induksi dan proleferasi limfosit imunokompeten.
c.        Produksi anti bodi.
d.       Reaksi peradangan.
e.        Menekan reaksi hipersensitifitas lambat.
5.      Sekresi lambung
a.        sekeresi asam lambubung dapat ditingkatkan.
b.       sekresi asam hidroklorida dan pepsin dapat meningkat.
c.        Faktor-faktor protekitif mukosa dirubah oleh steroid dan faktor-faktor ini dapat mempermudah terjadinya tukak.
6.      Fungsi otak
Perubahan psikologik terjadi karena kelebihan kortikosteroid, hal ini ditandai dengan oleh ketidak stabilan emosional, euforia, insomnia, dan episode depresi singkat.
7.      Eritropoesis
Involusi jaringan limfosit, ransangan pelepasan neutrofil dan peningkatan eritropoiesis.
Namun secara klinis efek farmakologis yang  bermanfaat dari glukokortikoid adalah kemampuannya untuk menekan reaksi peradangan. Dalam hal ini glukokortikoid:
-          Dapat menghambat hiperemia, ekstra vasasi sel, migrasi sel, dan permeabilitas kapiler.
-          Menghambat pelapasan kiniin yang bersifat pasoaktif dan menkan fagositosis.
-          Efeknya pada sel mast; menghambat sintesis histamin dan menekan reaksi anafilaktik akut yang berlandaskan hipersensitivitas  yang dperantarai anti bodi.
-          Penekanan peradangan sangat deperlukan, akan tetapi terdapat efek anti inflamasi yang merugikan penderita. Pada infeksi akut tubuh mungkin tidak mampu melindungi diri sebagai layaknya sementara menerima dosis farmakologik. (Sylvia  A. Price; Patofisiologi,  hal 1090-1091)
4.      Jenis – jenis Sindrom Cushing
Sindrom cushing dapat dibagi dalam 2 jenis:
1.             Tergantung ACTH :  Hiperfungsi korteks adrenal mungkin dapat disebabkan   oleh sekresi ACTH kelenjar hipofise yang abnormal berlebihan. Tipe ini mula-mula dijelaskan oleh  oleh Hervey Cushing pada tahun 1932, maka keadaan ini disebut juga sebagai penyakit cushing.
2.             Tak tergantung ACTH: Adanya adenoma hipofisis yang mensekresi ACTH, selain itu terdapat bukti-bukti histologi hiperplasia  hipofisis  kortikotrop, masih tidak jelas apakah kikroadenoma maupum hiperplasia  timbal balik akibat gangguan pelepasan CRH (Cortikotropin Realising  hormone) oleh neurohipotalamus. (Sylvia A. Price; Patofisiologi. hal 1091)
5.      Manifestasi Klinis
Manifestasi klinik yang sering ditemukan pada pasien dengan sindrom cushing antaralain:
-          Obesitas sentral
-          Gundukan lemak pd punggung
-          Muka bulat (moon face)
-          Striae
-          Berkurangnya massa otot & kelemahan umum.
Tanda lain yg ditemukan pd Syndrom cushing seperti:
-          Atripi/ kelemahan otot sektermitas
-          Hirsutisme (kelebihan bulu pada wanita)
-          Ammenorrhoe
-          Impotensi
-          Osteoporosis
-          Akne
-          Edema
-          Nyeri kepala, mudah memar dan gg penyembuhan luka.
6.      Pemeriksaan Diagnostik
a.       CT scan à Untuk menunjukkan pembesaran adrenal pada kasus sindro cushing.
b.      Photo scanning
c.       Pemeriksaan adrenal mengharuskan pemberian kortisol radio aktif secara intravena
d.      Pemeriksaan elektro kardiografi à Untuk menentukan adanya hipertensi (endokrinologi edisi hal 437)
e.       Uji supresi deksametason.
Mungkin diperlukan untuk membantu menegakkan diagnosis peyebab sindrom cushing tersebut, apakah hipopisis atau adrenal.
f.       Pengambilan sampele darah.
Untuk menentukan adanya varyasi diurnal yang normal pada kadar kortisol, plasma.
g.      Pengumpulan urine 24 jam.
Untuk memerikasa kadar 17 – hiroksikotikorsteroid serta 17 – ketostoroid yang merupakan metabolik kortisol dan androgen dalam urine.
7.      Penatalaksanaan
a.       Pengobatan tergantung pada ACTH yg tidak seragam. Apakah sumber ACTH ad hipofis atau ektopik.
b.      a. Jika dijumpai tumor hipofisis. Sebaiknya diusahakan reseksi tumor transfenoidal.
c.       b. Jika terdapat bukti hiperfungsi hipofisis namun tumor tidak dapat ditemukan maka sebagai gantinya dapat dilakukan radiasi kobait pada kelenjar hipofisis.
d.      c. Kelebihan kortisol juga dapat ditanggulangi dg  adrenolektomi total dan diikuti pemberian kortisol dosis fisiologik.
e.       d. Bila kelebihan kortisol disebabkan o/ neoplasma disusul kemoterapi pada penderita dengan karsinoma/ terapi pembedahan
f.       e. Digunakan obat dengan jenis metyropone, amino gluthemideo, p-ooo yang bisa mensekresikan kortisol ( Patofisiologi Edisi 4 hal 1093 )
B.     PROSES KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
1.      Aktivitas/ istirahat . Gejala: Insomnia, sensitivitas, otot lemah, gg koordinasi, kelelahan berat. Tandanya : atrofi otot.
2.       Sirkulasi . Gejala: Palpitasi, nyeri dada (angina). Tandanya: Distritnia, irama gallop, mur-mur, takikardia saat istirahat.
3.       Eliminasi. Gejala: Urine dlm jumlah banyak, perubahan dlm feces: diare.
4.      Itegritas ego
Gejala : Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik..
Tandanya : Emosi letal, depresi.
5.      Makanan atau cairan
Gejala : Kehilangan berat badan yang mendadak, mual dan muntah.
6.      Neorosensori
Gejala : Bicara cepat dan parau, gangguan status mental dan prilaku seperti binggung, disorientasi, gelisa, peka rangsangan, delirium.
7.      Pernafasan
Tandanya : Frekuensi pernafasan meningkatan, takepnia dispnea.
8.      Nyeri atau kenyamanan
Gejala : Nyeri orbital, fotobia.
9.      Keamanan
Gejala : Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan tandanya suhu meningkat diatas 37,40CC, retraksi, iritasi pada kunjungtiva dan berair.
10.  Seksualitas
Tandanya : Penurunan libido, hipomenoria, amenoria dan impoten.
2.      Komplikasi
1.      Krisis addison
2.      Efek yang merugikan pd aktivitas korteks adrenal
3.      Patah tulang akibat osteoporosis
3.      Diagnosa  Keperawatan Yang Mungkin Muncul

1.      Resiko cedera dan infeksi b/d kelemahan dan perubahan metabolisme protein serta respon inflamasi
2.      Defisit perawatan diri; kelemahan perasaan mudah lelah, atropi otot dan perubahan pola tidur
3.      Gg integritas kulit b/d edema, gg kesembuhan dan kulit yg tipis serta rapuh
4.      Gg citra tubuh b/d perubahan penampilan fisik, gg fungsi seksual dan penurunan tingkat aktivitas.
5.      Gg proses berpikir b/d fluktuasi emosi, iritabilitas dan depresi
( Susanne C. Smeltzer; Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth, hal. 1330).
C.     Perencanaan & Implementasi
Tujuan : Tujuan utama mencakup penurunan resiko cedera dan infeksi, peningkatan kemampuan untuk melaksanakan kemampuan perawatan mandiri , perbaikan fungsi mental dan tidak adanya komplikasi.
D.    Intervensi Keperawatan :
-          Pemantauan dan penata laksanaan komplikasi potensial
Krisiss addison. Pasien sindrom cushing yang gejalanya ditangani dengan cara menghentikan pemberian pemeberian kortikoisteroid atau dengan adrenelektomi  atau pengangkatan tumor hipofisis akan beresiko mengalami hipofungasi  adrenal dan krisis addisonian. Jika fungsi hormon adrenal telah tersupressi oleh kadara drenal yang tinggi dalam darah, maka atropi korteks adrenal kemungkinan akan terjadi. Apabila kadar hormon tersebut menurun dengan cepat akibat pembedahan atau penghentian terapi kortikosdteroid yang tiba-tiba, manifestasi hipofungsi adrenal dan krisis addison dapat  terjadi.
Disamping itu, penderita cushin sindrom yang mengalami  kejadian  yang sangat menimbulkan strees seperti trauma atar operasi darurat beresiko mengalami krisis addisonian karena terdapatnya supressi jangka panjang korteks adrenal. Karena itu kondisi penderita harus dipantau dengan ketat untuk mendeteksi hipotensi , denyut nadi yang lemah dan cepat, ppucat kelemahan yang ekstrim. Pasien tersebut meungkin memerlukan pemberian infus cairan dan elektrolit serta terapi kortikosteroid.
Pasien yang mengalami trauma atau memerlukan operasi darurat memerlukan kadar kortikosteroid tambahan sebelum, selama dan setelah terapi atau operasi. Jika terjadi krisis addisonian pasien harus mendapat pengobatan untuk mengatasi kolaps sirkulasi dan syok. Identifikasi faktor-faltor yang dapat menybebkan krisis tersebut harus diupayakan.
-          Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Status cairan dan eletrolit dipantau dengan mengukut berat badan pasien setip hari. Karena meningkatnya resikountuk mengalami intoleransi glukosa dan hiperglikemia, maka pemantauan glukosa darah harus dinilai setiap kenaikan kadar glukosa darah harus dimulai detiap kenaikan dilaporkan kepada dokter sehingga terapi dapat diberikan jika diperlukan.
-          Menurunkan risiko cedera dan infeksi
Lingkungan yang aman harus diciptakan untuk mencegah kecelakaan seperti terjatuh, fraktur dan berbagai cedera lain pada tulang serta jaringan lunak. Pasien yang sangat lemah mengkin memerlukan bantuan dan mobilisasi untuk mencegah jatuh dan membentur pada tepi perabot yang tajam.
Pertemuan dengan pengunjung, staff atau pasie yang menderita infeksi haarus dihindari. Penilaina kondisi pasien harus sering dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi yang tidak jelas, mengingat efek anti inflamasi dari kort ikosteroid dapat menyamarkan tanda-tanda umum infeksi dan inflamasi. Makanan yang tinggi protein, kalsium dan vitamin D harus dianjurkan untuk memperkecil kemungkinan pelisutan otot dan osteoporosis.
Rujukan kepada ahli diet dapat membantu pasien untuk memilih jenis-jenis makanan dan lalori.
-          Persiapan mengahadapi praoperatif
Pasien dipersiapkan untuk menjalani adrenalektomi, jika diperlukan, dan untuk perawatan pasca operasi, jika sindrom cushing merupakan kosekuensi dari tumor hipofisis, tindakan hipofisektomi transfenoidalis dapat dilakukan. Siabetes mellitus dan ulkus peptikum umumnya terjadi pada pasien sindrom cushing, dengan demikian pelaksanaannya harus mencakup pemantauan kadar glukosa darah serta pemeriksaan darah dalam feses, serta intervensi yang tepat.
-          Menganjurkan istirahat dan aktivitas
Kelemahan, perasaan mudah lelah  dan pelisutan otot akan menyulitkan penderita sindrom cushing dalam melaksanakan aktivitas  yang normal, aktivitas yang ringan harus dianjurkan untuk mencegah komplikasi akibat imobilisasi dan meningkatkan rasa percaya diri. Insomnia sering turut menimbulkan rasa cepat lelah yang dikeluhkan pasien. Waltu istirahat perlu direncanakan dan  diatur intervalnya sepanjang hari. Lingkungan yang tenang dan rileks untuk istirahat tidur harus diupayakan.
-          Meningkatkan perawatan kulit
Peningkatan perawatan kulit yang cermat untuk menghindari trauma pada kulit pasien yang rapuh. Penggunaan plester perlu dihindari karena dapat menimbulkan irirtasi kulit dan luka pad kulit yang rapuh ketika plaster itu dilepas. Daerah tonjolan tulang dan kulitnya harus sering diperiksa dan pasien danjurkan serta dibantu untuk mengubah posisi dehingga kerusakan kulit dapat dicegah.
-          Memperbaiki citra tubuh
Jika penyebab sindrom cushing dapat ditangani dengan baik, perubahan fisik lain yang penting juga akan menghilang pada saatnya. Meskipun demikian, akan sangat memmbagtu apabila pasien diberi penjelasan tentang dampak yang ditimbulkan oleh perubahan tersebut terhadap konsep diri dan hubungannya dengan orang lain. Kenaikan berat badan dan edema yang terlihat pada sindrom cushing dapat dimodifikasi dengan diet rendah karbohidrat  rendah natrium. Asupan protein yang tinggi  dapat mengurangi sebagian gejala lain yang mengganggu.
-          Memperbaiki proses pikir
Penjelasan kepada pasien dan anggota keluarga mengenai penyabab ketidak stabilan emosi amat penting dalam membantu mereka untuk mengatasi fluktuasi emosi, irritabilitas serta depresi yang terjadi. Perilaku psikotik dapat dapat dijumpai pada beberapa pasien dan harus dileporkan. Pasien dan anggota keluarga perlu didorong utuk mengungkapkan perasaannya. (Susanne c. smeltzer, buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner Suddart, Hal1331)
E.       Evaluasi
Hasil yang diharapkan:
1.             Menurunkan resiko cedera dan infeksi
a.       Bebas fraktur atau cedera jaringan lunak.
b.      Bebas daerah ekimosis.
c.       Tidak mengalami kenaikan suhu, kemerahan, rasa nyeri ataupun tanda-tanda lain infeksi serta inflamasi.
2.             Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri.
a.       Merencanakan aktivitas perawatan dan latihan untuk memungkinkan periode istirahat.
b.      Melaporkan perbaikan perasaan sehat.
c.       Bebas komplikasi mobilitas.
3.             Mencapai/mempertahankan integritas kulit.
a.       Memiliki kulit yang utuh tanpa ada bukti adanya luka atau infeksi.
b.      Menunjukkan bukti berkurangnya edema pada ekstremitas dan badan.
c.       Mengubah posisi dengan sering dan memeriksa bagian kukit yang menonjol setiap hari.
4.             Mencapai perbaikan citra tubuh.
a.       Mengutarakan perasaan tentang perubahan penampilan, fungsi seksual dan tingkat aktivitas.
b.      Mengungkapkan kesadaran bahwa perubahan fisil merupakan akibat dari pemberian kortikosteroid yang berlebihan.
5.             Memperlihatkan perbaikan fungsi mental.
6.             Tidak adanya komplikasi.
a.       Memperlihatkan tanda-tanda vital serta berat badan yang normal serta bebas dari gejala krisis sddisonian.
b.      Mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala hipofungsi korteks adrenal yang harus dilaporkan dan menyatakan tindakan yang akan diambil pada keadaan salit serta stress berat
c.       Mengidentifikasi strategi untuk memperkecil komlikasi sindrom cusing.
d.      Mematuhi anjuran untuk pemeriksaan tindakan lanjut.
(Susanne c. smeltzer, buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner Suddart, Hal1331)
F.       RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN (RENPRA)

1.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan muskuloskeletal, integumen,  dan seksual reproduksi
intervensi:
ü   Pertahankan lingkungan kondusif untuk membicarakan proses perubahan citra tubuh
ü   Diskusikan perasaan yang berhubungan dengan perubahan yang dialami oleh pasien
ü   Kaji pasien dengan mengidentifikasi dan mengembangkan kekuatan personal serta mekanisme koping untuk mengatasi masalah perubahan fisik
ü   Berikan informasi tentang kemungkinan dapat pulihnya gejala pada perubahan fisik.
ü   Kaji cara berpakaian untuk meningkatkan higiene personal, tindakan pemotongan bulu, rambut, pakaian yang menarik
ü   Hargai keinginan pasien untuk privacy
ü   Bersikap sensitif terhadap kebutuhan.
ü   Buat waktu luang untuk  setiap shift untuk mendengarkan secara aktif dan dukungan emosi
ü   Konsulkan kepada ahli keperawatan jiwa.
Hasil yang diharapkan/evaluasi
ü   Membicarakan perasaan tentang perubahan dalam penampilan
ü   Mengungkapkan pengetahuan bahwa gejala kekambuhan akan terjadi dengan pengobatan
ü   Melakukan higiene harian
ü   Meningkatkan penampilan melalui penggunaan kosmetik yang bijaksana dan pakaian yang sesuai.

2.      Potensial terhadap infeksi berhubungan dengan gangguan respon imun
intervensi:
ü   Pantau suhu tubuh dan tanda dan atau gejala infeksi lainnya setiap 4 jam
ü   Intruksikan pasien berbalik, batuk dan nafas dalamsetiap 2 jam sementara tirah baring
ü   Hindari proses invsif yang tidak diperlukan  (pemasangan kateter urine)
ü   Gunakan tekhinik sterilketika menangani semua lesi kulit, slang drain, atau sisi pungsi intara vena
ü   Lakukan pemeriksaan kultur pada luka atau sekresiyang mencurigakan
ü   Pertahan kan status nutrisi yang adekuat
ü   Hindari penempatan pasien dalam ruangan dengan orang lain yang secara potensial dapat menulari pasien.
ü   Hindari personil dengan ispa atau infeksi lain untuk memberikan perawartan pada klien, pantau pengunjung terhadap tanda infeksi dan batasi sesuai kebutuhan , atau ajarkan cara mencucitangan dan menggunakan masker sebelum berkunjung
Hasil yang diharapkan
ü   Suhu tubuh dalam batas normal; tidak terdapat infeksi pada integumen, pernafasan, dan sistem ginjal.
3.      Potensial untuk terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan mudah rusaksnya kapiler atau penipisan kulit
intervensi:
ü   Kaji terhada kemerahan atau kerusakanan kulit setiap 8 jam, bila pasien menjalanai tirah baring kaji setiap 4 jam
ü   Berikatan perawatan kulit perawatan kulit pada titik tekanan setiap 4 jam sesuai kebutuhan
ü   Gunakakan minyak atau solluision untuk air mandi, bilas dan keringkan dengan baik
ü   Hindari penggunaan sabun yang keras dan handuk yang kasar
ü   Baringkan pasien pada matras  atau tempat anti decubitus
ü   Bantu dan  berikan dorongan pasien untuk mengubah posisi dengan sering, ajarkan dan bantu pasien saaat melakukan rentang gerak, ambulasi sesering mungkin, instruksikan klien untuk hindari duduk lebih dari 1 jam.
Hasil yang diharapkan / rasional:
ü      Kulit tetap ututh tanpa bukti-bukti kemerahan.
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan muskuloskeletal karena peningkatan katabolisme protein
intervensi :
ü   Biarkan pasien sesuai keiinginannya, gunakan pagar tempat tidur dan trapez diatas kepala
ü   Selingi aktivitas dengan waktu istirahat untuk membantu peningkatan toleransi
ü   Kaji dan berikan bantuan untuk ambulasi (alat bantu jalan, tulang) sesuai kebutuhan
ü   Antisipasi kebutuhan akan bantuan dengan aktivitas sehari-hari, berpakaian, toileting, memberikan makanan,memebrikan barang-barang, yang dibutuhkan dalam jangkauan yang mudah untuk diraihuntuk mengurangi penggunaan energi
ü   Batasi aktivitas sampai tingkat toleransi pasien.
ü   Hentikan aktivitas pada saat pertama kali terlihat tanda intoleran, Takikardi, dyspnea, kelelahan.
ü   Beilan dorongan untuk meningkatkan aktivitas sesuai toleransi, tetapi mencaribantuan bila terjadi gejala intoleran.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
ü   Meningkatkan keiikut sertaan dalam perawatan diri dan aktivitas sehari-hari.
ü   Melaporkan berkurangnya perasaan kelemahan/ keletihan.
5.      Perubahan proses berfikir berhubungan dengan kelebihan sekresi kortisol
intervensi:
ü   evaluasi metode koping yang lalu dan saat ini.
ü   Berikan dorongan untuk membicarakan tentang perasaan kehilangan kontrol.
ü   Diskusikan reaksi yang melewati batas terhadap peristiwa dan metode untuk koping selanjutnya.
ü   Jelaskan bahwa lonjatan alam perasaan tersebut dapat diatasi dengan pengobatan.
ü   Ajarkan dan bantu dalam melakukan teknik relaksasi.
ü   Beikan lingkungan yang tenang, stabil dan tanpa stress.
ü   Konsisten dengan waktu dan saat melaukuan aktivitas dan prosedur.
ü   Batasi pengunjung sesuai dengan kepentingan.
ü   Cegah situasi yang dapat menyebabkan kemarahan emosisonal.
ü   Rencanakan perawatan dengan pasien antisipasi kebutuhan.
ü   Orientsikan pasien pada  lingkungan sesuai kebutuhan.
ü   Jelaskan prosedur dengan lambat dan jelas, ulangi bila perlu.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
ü   Pasien sadar dan berorintasi
ü   Membicarakan perasaan dengan mudah.
ü   Mengenali respon yang tidak sesuai terhadap situasi dan mebicarakan rencana untuk menagani respon tersebut.
6.      Kelebihan volume cairan sehubungan dengan sekresi kortisol yang berlebihan menyebakan retensi air dan natrium
intervemsi:
ü   pantau terhadap nilai-nilai elektrolit setiap 4 jam sampai 8 jam dan laporkan temuan abnormal pada dokter.
ü   Pantau madukan dan haluaran setiap 4 jam
ü   Timbang berat badan pasien setiap hari. Pada waktu yang sama, laporkan prningkatan berat badan.
ü   Hindari masukan cairan yang berlebihan bila pasien mengalami hipernatremia.
ü   Pantau EKG terhadap abnormalitas yang berhubungan dengan ketidak seimbangan elektrolit, biasanya hipernatremia dan hiper kalemia.
ü   Pantau tekanan darah , nadi dan bunyi nafas setiap 4 jam laporkan perubahan yang signifikan dari nilai dasar pasien.
ü   Kaji area edema dependen.
ü   Berikan perawatan kulituntuk erea yang mengalami edema, balikkan dan ubah posisi setiap 2 jam.
ü   Pertahankan diet tinggi protein, tinggi kalium, rendah natrium, mengurangi kalori.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
ü   Tanda-tanda vital dan elektrolit dalam batas normal untuk pasien, masukan dan haluaran seimbang, berat badan stabil dan dalam batas normal bagi pasien, tidak ada bukti adanya edema.
7.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit, pengobatan dan perawatan diri.
Intervensi:
ü   Jelaskan konsep dasar tentang penyakit .
ü   Diskusikan alasan terjadinya perubahan fisik dan emosional.
ü   Diskusikan dan berikan informasi tertulis tentang diiet rendah natrium.
ü   Jelaskan pentingnya mempertahankan lingkungan yang aman dan keseimbagan aktivitas dan istirahat.
ü   Ajarkan nama obat-obatan , dosis, waktu dan cara pemberian, tujuan, efek samping dan efek toksik.
ü   Jelaskan pelunya menghindari obat yang dijual bebas tanpa mengkonsultadikan dengan dokter.
ü   Tekankan pentingnya melakukan perawatan rawat jalan berkelanjutan.
Hasil yang diharapkan/evaluasi:
ü   Pasien orang terdekat mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, perinsip perawatan dirumah dan perawatan tindak lanjut, dan rencanakan terapi radiasi atau operasi


BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Hipotalamus mensekresi CRF, yang mengatur sekresi ACTH oleh hipofisis anterior. ACTH kemudian akan merangsang korteks adrenal menghasilkan hormone adrenokortikal. Adanya desakan massa tumor di hipofisis dalam sela tursika mengakibatkan pasien merasa pusing. Wajah moon face diakibatkan adanya penumpukan lemak khas gejala Cushing Sindrom. Striae dan lemah yang dirasakan pasien terjadi akibat mobilisasi protein dari jaringan otot. Amenore dan rambut yang tumbuh berlebih adalah konsekuensi dari berlebihnya sekresi adrenal. Hiperpigmentasi terjadi karena meningkatnya sekresi ACTH yang juga menentukan pembentukan melanin. Sifat retensi Na yang juga dimiliki oleh kortisol menyebabkan terjadi hipertensi pada kasus hiperkortisisme.
Diagnosis Cushing Sindrom didasarkan pada gejala-gejala klinis, hasil pemeriksaan CT Scan, dan dexamethason- test.
Penatalaksanaan primer Cushing Sindrom adalah dengan tindakan operasi tumor hipofisis atau pengangkatan kelenjar adrenal. Sedangkan pilihan kedua adalah dengan obat – obatan.
B.     SARAN
Sebaiknya pasien menjalani operasi pengangkatan tumor hipofisis dahulu, kemudian mungkin juga dapat dikombinasikan dengan obat – obatan penghambat sintesis hormone adrenokortikal.



DAFTAR PUSTAKA
R. Syamsuhidayat Buku Ajar Ilmu Bedah; EGC; Jakarta; 1997.
Sylvia A. Price; Patofisiolgi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit ; EGC; Jakarta; 1994
Susanne C. Smeltzer; Buku Ajar Medikal Bedah Brunner-Suddart; EGC; Jakarta; 1999.
Susan Martin Tucker;Standar Perawatan Pasien; EGC; jakarta
Dorland, W.A Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Ed29. Jakarta: EGC
                       Gunawan et,all. 2007. Farmakologi dan terapi Edisi 5. Jakarta : FKUI
                       Guyton et,all. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : EGC
                       Soedoyo, et,all. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbitan
                       Departemen







  



























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar