Sabtu, 29 Desember 2012

ASKEP PASIEN DENGAN SKABIES



ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SKABIES
A.    KONSEP DASAR TEORI
1.      Pengertian
Scabies (the itch, gudik, budukan, gatal agogo) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap sarcoptes scabiei var.hominis dan produknya ( Mansjoer, 2000 : 110).
Faktor penunjang penyakit ini antara lain sosial ekonomi rendah, hygiene buruk, sering berganti pasangan seksual, kesalahan diagnosis, perkembangan demografis serta ekologik.
Penyakit scabies merupakan penyakit menular oleh kutu tuma gatal sarcoptes skabei, kutu tersebut memasuki kulit stratum korneum, membentuk kanalikuli atau terowongan lurus atau berkelok sepanjang 0,6 sampai 1,2 sentimeter.
Klasifikasi scabies :
a.       Scabies pada orang bersih
b.      Scabies nodular
c.       Scabies pada bayi dan anak
d.      Scabies terbaring ditempat tidur
e.       Scabies Norwegia atau scabies krustosa.
Cara penularan :
a.       Kontak langsung ( kulit dengan kulit ), misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan hubungan seksual.
b.      Kontak tak langsung ( melalui benda ) misalnya pakaian,handuk, sprei, bantal, dll.
Penularan biasanya oleh sarcoptes scabiei betina yang sudah dibuahi atau bentuk larva. Dikenal pula sarcoptes scabiei var.animalis yang kadang – kadang dap menulari manusia, terutama yang memiliki binatang peliharaan seperti anjing.
2.      Etiologi
Scabies disebabkan oleh sarcoptes scabiei var.hominis.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata.
3.      Manifestasi klinis
Diagnosis dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal berikut:
-          Pruritus nokturna ( gatal pada malam hari ) karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
-          Umumnya ditemukan pada sekelompok manusia, misalnya mengenai seluruh anggota keluarga.
-          Adanya terowongan ( kunikulus ) pada tempat – tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu – abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata – rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulit menjadi polimorfi ( pustull, ekskoriasi dll). Tempat predileksi biasanya daerah dengan stratum korneum tipis, yaitu sela – sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mammae dan lipat glutea, umbilicus, bokong, genitalia eksterna, dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kai bahkan seluruh permukaan kulit. Pada remaja dan orang dewasa dapat timbul pada kuli kepala dan wajah.
-          Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostic
Pada pasien dengan hygiene terjaga, lesi yang timbul hanya sedikit sehingga diagnosis kadangkala sulit ditegakkan. Jika penyakit berlangsung lama, maka dapat timbul likenifikasi, impetigo, dan furunkulosis.
4.      Patofisiologis
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya dari tungau scabies, akan tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan gatal akibat sensitisasi terhadap secret dan ekssekret tungau kurang lebih sebulan setelah infestasi. Bergandengan tangan atau bersalaman tangan menyebabkan kontak kulit yang kuat, menyebabkan lesi timbul pada pergelangan tangan.
Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtikaria, dll. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.
5.      Penatalaksanaan
Syarat obat yang ideal ialah efektif terhadap semua stadium tungau adalah tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik, tidak berbau atau kotor, tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah diperoleh, dan harganya terjangkau.
Jenis obat topical :
1.      Belerang endap ( sulfur presipitatum) 4- 20 % dalam bentuk salep atau krim
2.      Emulsi benzyl – benzoate 20 – 25 % efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3 kali.
3.      Gama benzene heksa klorida (gameksan) 1% dalam bentuk krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang member iritasi.
4.      Krotamiton 10% dalam krim atau losio mempunyai dua efek, sebagai antiskabies dan antigatal.
5.      Krim permetrin 5 % merupakan obat yang paling efektif dan aman karena sangat mematikan untuk parasit sarcopta scabiei dan memiliki toksisitas rendah pada manusia.

B.     PROSES KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
a.       Biodata
b.      Riwayat kesehatan
-          Keluhan utama : Pada pasien scabies terdapat lesi kulit dibagian punggung dan merasakan gatal terutama pada malam hari.
-          Riwayat kesehatan sekarang : pasien mulai merasakan gatal yang memanas dan kemudian menjadi edema karena garukan akibat rasa gatal yang sangat hebat.
-          Riwayat kesehatan dahulu: Pasien pernah masu rumah sakit karena alergi.
-          Riwayat kesehatan keluarga : Dalam keluarga ada yang menderita penyakit seperti yang klien alami.
c.       Pola fungsi kesehatan
-          Pola persepsi terhadap kesehatan : apabila sakit, klien biasanya membeli obat di toko obat terdekat atau apabila terjadi perubahan pasien memaksakan diri ke RS
-          Pola aktivitas latihan: Aktivitas latihan selama sakit ; aktivitas ; makan, mandi, berpakaian, eliminasi, mobilisasi ditempat tidur,
-          Pola istirahat dan tidur : Pada pasien scabies terjadi gangguan pola tidur akibat gatal yang hebat pada malam hari.
-          Pola nutrisi metabolic : tidak terdapat gangguan.
-          Pola eliminasi : Klien BAB 1x sehari, dengan konsitensi lembek, wrna kuning bau khas dan BAK 4-5x sehari, dengan bau khas warna kuning jernih.
-          Pola kognitif perceptual : Saat pengkajian kien dalam keadaan sadar, bicara jelas, pendengaran dan penglihatan normal.
-          Pola peran hubungan
-          Pola konsep diri
-          Pola seksual reproduksi : Pada klien scabies mengalami gangguan pada seksual reproduksinya.
-          Pola koping : Masalah utama yang terjadi selama klien sakit, klien selalu merasa gatal, dan pasien menjadi malas untuk bekerja, Kehilangan atau perubahan yang terjadi, perubahan yang terjadi klien malas untuk melakukan aktivitas sehari-hari, Takut terhadap kekerasan : tidak, Pandangan terhadap masa depan : klien optimis untuk sembuh
2.      Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1.      Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi
2.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
3.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampian sekunder
4.      Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
5.      Resiko infeksi berhubungan dengan jaringan kulit rusak dan prosedur infasif
6.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema
3.      Rencana Asuhan Keperawatan
Dx Keperawatan I : Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, diharapakan nyeri dapat teratasi.
Kriteria hasil :
a.       Nyeri terkontrol
b.      Gatal mulai berkurang
c.       Tidak terdapat adanya pus
d.      Vital sign dalam batas normal
Intervensi :
1.      Kaji nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2.      Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
3.      Berikan perawatan kulit dengan sering, hilangkan rangasangan lingkungan yang kurang menyenangkan.
4.      Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik dan antibiotic.
5.      Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik.
6.      Tingkatkan istirahat
7.      Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur.
Dx Keperawatan II : Gangguan pola tidur b/d nyeri
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan tidur klien tidak terganggu.
Kriteria hasil :
a.       Klien tidak sering terbangun dimalam hari
b.      Wajah pasien tampak segar
Intervensi :
1.      Kaji pola tidur klien sebelum dan setelah masuk RS
2.      Berikan kenyamanan pada klien, jaga kebersihan tempat tidur pasien
3.      Catat berapa banyak klien terbangun di malam hari.
4.      Berikan lingkungan yang nyaman dan kurangi kebisingan.
5.      Kolaborasi dengan dokter terapi analgetik
6.      Berikan alunan music klasik sebagai pengantar tidur jika perlu.
Dx Keperawatan III:  Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dalam penampian sekunder
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, diharapkan klien tidak mengalami gangguan dalam cara penerapan cintra diri.
Kriteria hasil :
a.       Body image positif
b.      Mampu mengidentifikasi kekuatan personal.
c.       Mengungkapkan penerimaan atas penyakit yang dialaminya.
d.      Mengakui dan memantapkan kembali dukungan yang ada.
Intervensi :
1.      Kaji secara verbal dan nonverbal respon klien terhadap tubuhnya.
2.      Monitor frekuensi  mengkritik dirinya.
3.      Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit.
4.      Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya.
5.      Dorong individu untuk mengekspresian perasaan khususnya mengenai pikiran, pandangan dirinya
6.      Dorong individu untuk bertanya mengenai masalah penanganan, perkembangan kesehatan.
Dx Keperawatan IV : Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama …. x24jam, kecemasan dapat teratasi.
Kriteria hasil :
a.       Klien tampak tenang
b.      Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
c.       Vital sign dalam batas normal.
d.      Klien mampu mengidentifiasi dan mengungkapkan dan menunjukkan teknik untuk mengontrol gejala cemas.
e.       Postur tubuh ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan bekurangnya kecemasan
Intervensi :
1.      Gunakan pendekatan yang menenangkan.
2.      Berikan informasi factual mengenai diagnosis, dan prognosis penyakitnya.
3.      Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi kecemasan.
4.      Libatkan keluarga untuk mendampingi klien.
5.      Identifikasi tingkat kecemasan.
6.      Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan
7.      Kolaborasi dengan dokter pemberian obat anti cemas.
DAFTAR PUSTAKA
Mansjoer, Arif, et all. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.
Diagnosis Keperawatan NANDA Defenisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC. 2010.
Closkey, Mc, et all. 2007. Diagnosa Keperawatan NOC-NIC. St-Louis
Carpenito, Linda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar