Sabtu, 10 Agustus 2013

ASKEP ANAK DENGAN ISPA



BAB I
KONSEP DASAR TEORI
A.    Pendahuluan
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) di negara berkembang masih merupakan masalah kesehatan yang menonjol, terutama pada anak. Penyakit ini pada anak merupakan penyebab kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang tinggi. Angka kematian ISPA di negara maju berkisar antara 10 -15 %, sedangkan di negara berkembang lebih besar lagi.
Di Indonesia angka kematian ISPA diperkirakan mencapai 20 %.
Hingga saat ini salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA. (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3 - 6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % - 60 % dari kunjungan di puskesmas adalah oleh penyakit ISPA (Anonim, 2009).
B.     Tujuan penulisan
1.      Tujuan umum
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan Pada anak dengan ISPA
2.      Tujuan khusus
a.       Untuk mengetahui bagaimana pengkajian pada anak dengan ISPA
b.      Untuk mengetahui Diagnosa keperawatan apa yang muncul pada anak dengan ISPA
c.       Untuk mengetahui Intervensi keperawatan pada anak dengan ISPA
d.      Untuk mengetahui Implementasi keperawatan apa yang tetapat pada anak dengan ISPA
e.       Untuk mengetahui Evaluasi keperawatan serta rencana tindakan apa yang akan dilakukan pada anak dengan ISPA.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Konsep Dasar Penyakit
1.      Pengertian
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu keadaan dimana saluran pernafasan (hidung, pharing dan laring) mengalami inflamasi yang menyebabkan terjadinya obstruksi jalan nafas dan akan menyebabkan retraksi dinding dada pada saat melakukan pernafasan (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 450).
ISPA merupakan singkatan dari Infeksi Saluran Pernapasan Akut. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah ISPA adalah infeksi saluran pernapasan yang berlangsung sampai 14 hari. Yang dimaksud dengan saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung sampai gelembung paru (alveoli), beserta organ-organ disekitarnya seperti : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru. Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk, pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumoni bila infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibat kematian.
ISPA merupakan kepanjangan dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut dan mulai diperkenalkan pada tahun 1984 setelah dibahas dalam lokakarya Nasional ISPA di Cipanas. Istilah ini merupakan padanan istilah bahasa inggris yakni Acute Respiratory Infections (ARI).
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran nafas mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA umumnya berlangsung selama 14 hari. Yang termasuk dalam infeksi saluran nafas bagian atas adalah batuk pilek biasa, sakit telinga, radang tenggorokan, influenza, bronchitis, dan juga sinusitis. Sedangkan infeksi yang menyerang bagian bawah saluran nafas seperti paru itu salah satunya adalah Pneumonia.(WHO)
Infeksi saluran pernafasan adalah suatu penyakit yang mempunyai angka kejadian yang cukup tinggi. Penyebab dari penyakit ini adalah infeksi agent/ kuman. Disamping itu terdapat beberapa faktor yang turut mempengaruhi yaitu; usia dari bayi/ neonatus, ukuran dari saluran pernafasan, daya tahan tubuh anak tersebut terhadap penyakit serta keadaan cuaca (Whaley and Wong; 1991; 1419).
2.      Etiologi
     Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan richetsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
Etiologi Pneumonia pada Balita sukar untuk ditetapkan karena dahak biasanya sukar diperoleh. Penetapan etiologi Pneumonia di Indonesia masih didasarkan pada hasil penelitian di luar Indonesia. Menurut publikasi WHO, penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa di negara berkembang streptococcus pneumonia dan haemophylus influenza merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada dua per tiga dari hasil isolasi, yakni 73, 9% aspirat paru dan 69, 1% hasil isolasi dari spesimen darah. Sedangkan di negara maju, dewasa ini Pneumonia pada anak umumnya disebabkan oleh virus.
a.      Faktor Pencetus ISPA
1)      Usia
Anak yang usianya lebih muda, kemungkinan untuk menderita atau terkena penyakit ISPA lebih besar bila dibandingkan dengan anak yang usianya lebih tua karena daya tahan tubuhnya lebih rendah.
2)      Status Imunisasi
Anak dengan status imunisasi yang lengkap, daya tahan tubuhnya lebih baik dibandingkan dengan anak yang status imunisasinya tidak lengkap.
3)      Lingkungan
Lingkungan yang udaranya tidak baik, seperti polusi udara di kota-kota besar dan asap rokok dapat menyebabkan timbulnya penyakit ISPA pada anak.
b.      Faktor Pendukung terjadinya ISPA
1)      Kondisi Ekonomi
Keadaan ekonomi yang belum pulih dari krisis ekonomi yang berkepanjangan berdampak peningkatan penduduk miskin disertai dengan kemampuannya menyediakan lingkungan pemukiman yang sehat mendorong peningkatan jumlah Balita yang rentan terhadap serangan berbagai penyakit menular termasuk ISPA. Pada akhirnya akan mendorong meningkatnya penyakit ISPA dan Pneumonia pada Balita.
2)      Kependudukan
Jumlah penduduk yang besar mendorong peningkatan jumlah populasi Balita yang besar pula. Ditambah lagi dengan status kesehatan masyarakat yang masih rendah, akan menambah berat beban kegiatan pemberantasan penyakit ISPA.
3)      Geografi
Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki potensi daerah endemis beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat mendorong terjadinya peningkatan kaus maupun kemaian penderita akibat ISPA. Dengan demikian pendekatan dalam pemberantasan ISPA perlu dilakukan dengan mengatasi semua faktor risiko dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.
4)      Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
PHBS merupakan modal utama bagi pencegahan penyakit ISPA. Perilaku bersih dan sehat tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya dan tingkat pendidikan penduduk. Dengan makin meningkatnya tingkat pendidikan di masyarakat diperkirakan akan berpengaruh positif terhadap pemahaman masyarakat dalam menjaga kesehatan Balita agar tidak terkena penyakit ISPA yaitu melalui upaya memperhatikan rumah sehat dan lingkungan sehat.
5)      Lingkungan dan Iklim Global
Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, gas buang sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah merupakan ancaman kesehatan terutama penyakit ISPA. Demikian pula perubahan iklim gobal terutama suhu, kelembapan, curah hujan, merupakan beban ganda dalam pemberantasan penyakit ISPA.
Agen infeksi adalah virus atau kuman yang merupakan penyebab dari terjadinya infeksi saluran pernafasan. Ada beberapa jenis kuman yang merupakan penyebab utama yakni golongan A -hemolityc streptococus, staphylococus, haemophylus influenzae, clamydia trachomatis, mycoplasma dan pneumokokus.
Usia bayi atau neonatus, pada anak yang mendapatkan air susu ibu angka kejadian pada usia dibawah 3 bulan rendah karena mendapatkan imunitas dari air susu ibu. Ukuran dari lebar penampang dari saluran pernafasan turut berpengaruh didalam derajat keparahan penyakit. Karena dengan lobang yang semakin sempit maka dengan adanya edematosa maka akan tertutup secara keseluruhan dari jalan nafas.
Kondisi klinis secara umum turut berpengaruh dalam proses terjadinya infeksi antara lain malnutrisi, anemia, kelelahan. Keadaan yang terjadi secara langsung mempengaruhi saluran pernafasan yaitu alergi, asthma serta kongesti paru.
Infeksi saluran pernafasan biasanya terjadi pada saat terjadi perubahan musim, tetapi juga biasa terjadi pada musim dingin (Whaley and Wong; 1991; 1420).

B.     Patofisiologi
Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi 3 tahap yaitu :
1.      Tahap prepatogenesis : penyuebab telah ada tetapi belum menunjukkan reaksi apa-apa.
2.      Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa. Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3.      Tahap dini penyakit : dimulai dari munculnya gejala penyakit,timbul gejala demam dan batuk.
Tahap lanjut penyaklit, dibagi menjadi empat yaitu :
a)      Dapat sembuh sempurna.
b)      Sembuh dengan atelektasis.
c)      Menjadi kronos.
d)     Meninggal akibat pneumonia.
Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien. Ketahanan saluran pernafasan tehadap infeksi maupun partikel dan gas yang ada di udara amat tergantung pada tiga unsur alami yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu keutuhan epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag alveoli, dan antibodi.
Antibodi setempat yang ada di saluran nafas ialah Ig A. Antibodi ini banyak ditemukan di mukosa. Kekurangan antibodi ini akan memudahkan terjadinya infeksi saluran nafas, seperti yang terjadi pada anak. Penderita yang rentan (imunokompkromis) mudah terkena infeksi ini seperti pada pasien keganasan yang mendapat terapi sitostatika atau radiasi.Penyebaran infeksi pada ISPA dapat melalui jalan hematogen, limfogen, perkontinuitatum dan udara nafas.
Infeksi bakteri mudah terjadi pada saluran nafas yang sel-sel epitel mukosanya telah rusak akibat infeksi yang terdahulu. Selain hal itu, hal-hal yang dapat mengganggu keutuhan lapisan mukosa dan gerak silia adalah asap rokok dan gas SO2 (polutan utama dalam pencemaran udara), sindroma imotil, pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25 % atau lebih).
C.    Manifestasi Klinis
1.      Batuk, pilek dengan nafas cepat atau sesak nafas
Pada umur kurang dari 2 bulan, nafas cepat lebih dari 60 x / mnt.
Penyakit ini biasanya dimanifestasikan dalam bentuk adanya demam, adanya obstruksi hidung dengan sekret yang encer sampai dengan membuntu saluran pernafasan, bayi menjadi gelisah dan susah atau bahkan sama sekali tidak mau minum (Pincus Catzel & Ian Roberts; 1990; 451).
1.      Demam.
Pada neonatus mungkin jarang terjadi tetapi gejala demam muncul jika anak sudah mencaapai usia 6 bulan sampai dengan 3 tahun. Seringkali demam muncul sebagai tanda pertama terjadinya infeksi. Suhu tubuh bisa mencapai 39,5OC-40,5OC.
2.      Meningismus.
Adalah tanda meningeal tanpa adanya infeksi pada meningens, biasanya terjadi selama periodik bayi mengalami panas, gejalanya adalah nyeri kepala, kaku dan nyeri pada punggung serta kuduk, terdapatnya tanda kernig dan brudzinski.
3.      Anorexia.
Biasa terjadi pada semua bayi yang mengalami sakit. Bayi akan menjadi susah minum dan bhkan tidak mau minum.
4.      Vomiting, biasanya muncul dalam periode sesaat tetapi juga bisa selama bayi tersebut mengalami sakit.
5.      Diare (mild transient diare), seringkali terjadi mengiringi infeksi saluran pernafasan akibat infeksi virus.
6.      Abdominal pain, nyeri pada abdomen mungkin disebabkan karena adanya lymphadenitis mesenteric.
7.      Sumbatan pada jalan nafas/ Nasal, pada saluran nafas yang sempit akan lebih mudah tersumbat oleh karena banyaknya sekret.
8.      Batuk, merupakan tanda umum dari tejadinya infeksi saluran pernafasan, mungkin tanda ini merupakan tanda akut dari terjadinya infeksi saluran pernafasan.
9.      Suara nafas, biasa terdapat wheezing, stridor, crackless, dan tidak terdapatnya suara pernafasan (Whaley and Wong; 1991; 1419).
D.    Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah :
1.      Biakan virus
2.      Serologis
3.      Diagnostik virus secara langsung.
       Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum, biakan darah, biakan cairan pleura.

Fokus utama pada pengkajian pernafasan ini adalah pola, kedalaman, usaha serta irama dari pernafasan.
1.      Pola, cepat (tachynea) atau normal.
2.      Kedalaman, nafas normal, dangkal atau terlalu dalam yang biasanya dapat kita amati melalui pergerakan rongga dada dan pergerakan abdomen.
3.      Usaha, kontinyu, terputus-putus, atau tiba-tiba berhenti disertai dengan adanya bersin.
4.      Irama pernafasan, bervariasi tergantung pada pola dan kedalaman pernafasan.
5.      Observasi lainya adalah terjadinya infeksi yang biasanya ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, adanya batuk, suara nafas wheezing. Bisa juga didapati adanya cyanosis, nyeri pada rongga dada dan peningkatan produksi dari sputum.
6.      Riwayat kesehatan:
a.       Keluhan utama (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan)
b.      Riwayat penyakit sekarang (kondisi klien saat diperiksa)
c.       Riwayat penyakit dahulu (apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang)
d.      Riwayat penyakit keluarga (adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien)
e.       Riwayat sosial (lingkungan tempat tinggal klien)

Pemeriksaan fisik à difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan :
a.       Inspeksi
1)      Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan
2)      Tonsil tampak kemerahan dan edema
3)      Tampak batuk tidak produktif
4)      Tidak ada jaringan parut pada leher
5)      Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
b.      Palpasi
1)      Adanya demam
2)      Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis
3)      Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
c.       Perkusi : Suara paru normal (resonance)
d.      Auskultasi : Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

E.     Penatalaksanaan
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA) .
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan penunjang yang penting bagi pederita ISPA.
Penatalaksanaan ISPA meliputi langkah atau tindakan sebagai berikut :
1.      Upaya pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan :
a.       Menjaga keadaan gizi agar tetap baik.
b.      Immunisasi.
c.       Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
d.      Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.
2.      Pengobatan dan perawatan
Prinsip perawatan ISPA antara lain :
a.       Menigkatkan istirahat minimal 8 jam perhari
b.      Meningkatkan makanan bergizi
c.       Bila demam beri kompres dan banyak minum
d.      Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih
e.       Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat.
f.       Bila terserang pada anak tetap berikan makanan dan ASI bila anak tersebut masih menetek
3.      Pengobatan antara lain :
a.       Mengatasi panas (demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
b.      Mengatasi batuk. Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh , diberikan tiga kali sehari.
F.     Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
1.      Bersihan jalan nafas tidak  efektif  berhubungan dengan  penurunan ekspansi paru.
2.      Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme.
3.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan  ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna makanan
4.      Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA berhubungan dengan kurang informasi.
BAB III
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
1.      Pengkajian
a.       Keluhan Utama : Klien mengeluh demam, batuk , pilek, sakit tenggorokan.
b.      Riwayat penyakit sekarang : Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah, nyeri otot dan sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
c.       Riwayat penyakit dahulu : Kilen sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang
d.      Riwayat penyakit keluarga : Menurut pengakuan klien,anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien tersebut
e.       Riwayat sosial : Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat penduduknya
2.      Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa I         : Bersihan jalan nafas tidak  efektif  berhubungan dengan  penurunan ekspansi paru.
Tujuan kriteria hasil :

1.      Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
2.      Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal)
3.      Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)

Intervensi :
1.      Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
2.      Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
3.      Lakukan fisioterapi dada jika perlu
4.      Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
5.      Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
6.      Lakukan suction pada mayo
7.      Berikan bronkodilator bila perlu
8.      Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab
9.      Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
10.  Monitor respirasi dan status O2
11.  Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
12.  Pertahankan jalan nafas yang paten
13.  Atur peralatan oksigenasi
14.  Monitor aliran oksigen
15.  Pertahankan posisi pasien
16.  Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
17.  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi

Diagnosa II        : Hipertermi berhubungan dengan invasi mikroorganisme
Tujuan Kriteria Hasil :
1.      Suhu tubuh dalam rentang normal
2.      Nadi dan RR dalam rentang normal
3.      Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Intervensi :
1.      Monitor suhu sesering mungkin
2.      Monitor warna dan suhu kulit
3.      Monitor tekanan darah, nadi dan RR
4.      Monitor intake dan output
5.      Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
6.      Berikan pasien kompres air hangat, hindari pemberian kompres dingin.
7.      Tingkatkan sirkulasi udara.
8.      Kolaborasi pemebrian cairan intravena.
9.      Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas.
10.  Kolaborasi pemberian antipiretik.
11.  Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

Diagnosa III      :  Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan  ketidak mampuan dalam memasukan dan mencerna makanan

Tujuan Kriteria Hasil :
1.      Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
2.      Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
3.      Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
4.      Tidak ada tanda tanda malnutrisi
5.      Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan
6.      Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti

 Intervensi :
1.      Kaji adanya alergi makanan
2.      Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
3.      Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
4.      Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
5.      Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
6.      Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
7.      Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
8.      Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
9.      Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
10.  BB pasien dalam batas normal
11.  Monitor turgor kulit
12.  Monitor mual dan muntah
13.  Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
14.  Monitor pertumbuhan dan perkembangan

Diagnosa IV         : Kurang pengetahuan tentang penatalaksanaan ISPA berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan Kriteria Hasil :
1.      Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan.
2.      Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar.
3.      Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya.
Intervensi                         :
1.      Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik.
2.      Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.
3.      Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
4.      Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat.
5.      Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat.
6.      Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau proses pengontrolan penyakit.
7.      Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.
8.      Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara yang tepat

B.     Evaluasi    :
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan myocarditis (Doenges, 1999) adalah :
1.      Bersihan jalan nafas efektif, tidak ada bunyi atau nafas tambahan.
2.      Suhu tubuh pasien dalam rentang normal antara 36 -37,5 C
3.      Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
4.      Pengetahuan adekuat serta tidak terjadi komplikasi pada klien.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar